IAIN Langsa
Puasa Menuju Taqwa

21 April 2021

Catatan Kuliah Zuhur Hari ke-9 Ramadhan 1442 H: Dr. Zulfikar MA 

Puasa seperti disyariatkan oleh Allah swt kepada hamba-Nya dapat mengubah diri kita menjadi pribadi bertaqwa. Sebagaimana yang termaktub dalam ayat wajibnya puasa, “La‘allakum tattaqūn”, (QS. 2:183). Inilah yang menjadi prestasi seorang hamba.

Berkenaan dengan hal ini, Dekan Fakultas Syariah IAIN Langsa, Ustadz Dr. Zulfikar, M.A. dalam kuliah zuhurnya, 9 Ramadhan 1442 H menyampaikan penjelasan yang cukup komprehensif. Selain menjelaskan taqwa secara bahasa juga mengambil pendapat dari ulama-ulama yang muktabar.

“Taqwa ini artinya memelihara, dalam artian, dengan puasa kita menjadi bertaqwa, bukan hanya ketika berpuasa, tapi secara terus menerus, untuk bulan-bulan dan tahun-tahun berikutnya. Taqwa juga menjadikan manusia bisa menjaga dirinya dari perbuatan yang dilarang Allah SWT”, begitu beliau menjelaskan esensi taqwa di hadapan jama’ah zuhur yang terdiri dari dosen dan mahasiswa di kampus.

Menjadi menarik untuk dicermati, taqwa memang bukan predikat yang bisa kita dapatkan dengan berpangku tangan, sekadar berharap dari Allah swt., tapi ia harus dikejar oleh seorang hamba, dengan niat tulus, ibadah yang sungguh-sungguh, dan mengaplikasikan nilai-nilainya dalam hidup sehari-hari.

Dalam rangka inilah, beliau kemudian menjelaskan hubungan taqwa dengan surat As-syam ayat 7-10.
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَد خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)
dan jiwa serta penyempurnaannya (penciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Taqwa Sebagai Fitrah

Dengan mengutip pendapat dari ahli tafsir beliau mengatakan penciptaan manusia oleh Allah SWT yang sempurna dengan dibekali fitrah yang lurus lagi tegak. Oleh sebab itu Nabi Muhammad SAW ketika membacakan ayat 7 dan 8 surah As-syams ini beliau berdoa kepada Allah Allahumma Ati Nafsi Taqwaha yang artinya ya Allah datangkanlah pada jiwaku ini ketakwaannya.

Sebagaimana juga Hadis Sahih Bukhari mengenai seorang anak yang terlahir dalam keadaan fitrah, dari Abu Hurairah Rasulullah saw Bersabda yang artinya: “tidak ada seorang anak yang terlahir melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, maupun Majusi, sebagaimana binatang ternak melahirkan binatang ternak yang tanpa cacat.

Ustaz Dr. Zulfikar mengingatkan kepada seluruh jamaah untuk mencapai predikat taqwa tersebut, seharusnya kita bukan hanya rajin mengecek kesehatan fisik saja seperti cek gula darah, kolesterol dan sebagainya, tapi selayaknya kita memeriksa juga penyakit jiwa kita seperti apakah kita memiliki rasa takut kepada makhluk yang berlebihan, kikir, malas dan penyakit jiwa lainnya. Ketika kita senantiasa berbenah diri dalam kebaikan dan berusaha meningkatkan keimanan maka ketaqwaan dapat saja menghampiri kita dengan izin Allah swt.

Beruntungnya Orang Berpuasa dan Bertaqwa

Demikian penjelasan Ustadz Zulfikar mengenai korelasi antara taqwa dan fitrah manusia. Sungguh beruntung siapa yang mendapatkan predikat tersebut. Ia yang selain menjauhkan diri dari yang dilarang, juga mampu menghindari yang sejatinya dibolehkan. Saidina Ali RA pernah mengatakan salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah Al-Isti’dadu li Yaumir-Rahil, yaitu senantiasa mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian dan kembali kepada Allah.

Begitulah puasa mendidik kita. Ibadah spesial yang memberikan banyak pelajaran kepada siapapun yang mau mengambilnya. Semoga kita bisa menjadi tuan rumah yang baik untuk tamu yang agung; bulan Ramadhan. Tak lupa kita berdoa kepada Allah swt agar diberikan kekuatan dan istiqomah untuk memaksimalkan perubahan diri ke arah yang lebih baik dan menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Wallāhu A’lam.(Muhammad Firdaus)